Halo Sobat Pustaka! Sering ragu memilih huruf “f” atau “p”, atau bingung antara “e” dan “i” saat menulis? Kamu tidak sendirian. Meskipun bahasa Indonesia bersifat dinamis, kepatuhan pada KBBI tetap menjadi standar utama profesionalitas dalam tulisan resmi.
Sebab, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan ketelitian kita dalam berpikir. Agar kualitas tulisanmu tetap terjaga, mari kita bedah daftar kata yang sering salah tulis agar kualitas tulisanmu makin oke!

10 Kata yang Sering Salah Tulis dan Versi Benarnya
1. Aktivitas, Bukan Aktifitas
Mungkin kamu sering melihat papan iklan atau judul berita yang menuliskan “Aktifitas”. Namun demikian, penulisan tersebut sebenarnya keliru. Kata ini merupakan serapan dari bahasa Inggris activity. Dalam kaidah penyerapan, akhiran -ity berubah menjadi -itas. Selain itu, meskipun kata dasarnya adalah “aktif”, ketika mendapat imbuhan serapan, huruf “f” berubah menjadi “v”.
2. Risiko, Bukan Resiko
Kata “resiko” sangat akrab pada telinga kita, tetapi versi baku yang tercatat dalam KBBI adalah “risiko”. Kesalahan ini sering terjadi karena pengaruh pelafalan lisan yang cenderung lebih nyaman mengucap huruf “e”. Jadi, mulai sekarang, pastikan kamu menulis “risiko investasi” atau “risiko kesehatan”, ya!
3. Izin, Bukan Ijin
Dalam surat-menyurat, kata “ijin” masih sering bertebaran. Padahal, bentuk yang benar menurut kaidah bahasa adalah “izin”. Penggunaan huruf “z” memberikan kesan yang lebih tegas dan sesuai dengan sumber serapan aslinya.
4. Sekadar, Bukan Sekedar
“Aku cuma minta sekedar perhatian.” Kalimat ini sering kita dengar dalam lagu atau obrolan santai. Akan tetapi, jika kita merujuk pada kata dasarnya, yaitu “kadar”, maka penulisan yang benar adalah “sekadar”. Ingat, tidak ada kata “kedar” dalam bahasa kita, sehingga “sekedar” menjadi tidak baku.
5. Nasihat, Bukan Nasehat
Perubahan huruf “i” menjadi “e” memang sering menjadi jebakan Batman. Banyak orang merasa kata “nasehat” terdengar lebih bijaksana, namun KBBI secara tegas menyatakan bahwa “nasihat” adalah bentuk yang sah.
6. Praktik, Bukan Praktek
Kata ini sering sekali tertukar, terutama pada papan nama tenaga medis. Meskipun kata turunannya adalah “praktikum”, banyak orang justru terbiasa menulis “praktek”. Aturan sederhananya: jika kata serapannya adalah practice (Inggris) atau praktijk (Belanda), maka dalam bahasa Indonesia ia menjadi “praktik”.
7. Apotek, Bukan Apotik
Ini adalah salah satu kesalahan yang paling legendaris. Kita sering menyebut orang yang bekerja sebagai “apoteker”, bukan “apotikir”. Oleh sebab itu, tempatnya pun mendapat julukan sebagai “apotek”. Jadi, jangan sampai salah mampir ke “apotik” lagi, ya!
8. Karier, Bukan Karir
Dunia profesional menuntut kita untuk memiliki “karier” yang cemerlang. Sayangnya, banyak orang menulisnya “karir” tanpa huruf “e”. Padahal, penulisan dengan “e” tambahan merupakan bentuk adaptasi yang tepat dari bahasa asing ke dalam struktur bahasa kita.
9. Hakikat, Bukan Hakekat
Sama halnya dengan nasihat, kata “hakikat” sering mengalami pergeseran vokal menjadi “hakekat” dalam percakapan. Maka dari itu, sebagai penulis yang baik, kita harus mengembalikan marwah kata tersebut ke bentuk aslinya, yaitu “hakikat”.
10. Pikir, Bukan Fikir
Tahukah kamu kalau kata dasar yang benar adalah “pikir”? Huruf “f” sering digunakan karena pengaruh dialek atau bahasa asal serapan. Namun, dalam bahasa Indonesia baku, kita menggunakan huruf “p”. Begitu pula dengan turunannya seperti “berpikir”, bukan “berfikir”.
Mengapa Kesalahan Ini Terus Berulang?
Kesalahan ini terus berulang terutama karena faktor kebiasaan pada lingkungan kita. Karena sering mendengar kata tidak baku, otak cenderung menganggapnya benar. Hal ini diperparah oleh rendahnya budaya kroscek ke KBBI daring, sehingga kesalahan ejaan terus terwariskan antar penulis. Selain itu, pengaruh pelafalan lisan dan bahasa daerah membuat kita lebih mementingkan “kenyamanan lidah” daripada aturan baku. Padahal, salah tulis dalam dokumen resmi bisa merusak profesionalitas dan kredibilitas kita di mata klien.
Langkah Nyata Menuju Tulisan Berkualitas
Agar kita tidak terus terjebak dalam lubang yang sama, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan. Manfaatkan teknologi dengan mengunduh aplikasi KBBI di ponselmu, perbanyak membaca buku-buku bermutu atau artikel dari media massa yang memiliki editor bahasa yang ketat dan jangan malas untuk melakukan proofreading atau swasunting. Bacalah kembali tulisanmu dengan teliti sebelum menekan tombol publish atau mengirimkannya kepada atasan.
Penutup
Menulis dengan bahasa Indonesia yang benar bukan berarti kita harus kaku dalam berkomunikasi. Namun, mengetahui mana yang baku dan mana yang tidak adalah bentuk apresiasi kita terhadap bahasa nasional. Dengan menggunakan kata yang tepat, pesan yang kita sampaikan akan terasa lebih kuat, rapi, dan berkelas.










